Showing posts with label koran kampus. Show all posts

Satu Tahun Kepengurusan

Its almost a year. Yaa sudah hampir satu tahun usiaku berada dalam kepengurusan ini. Sudah hampir satu tahun dan aku masih merasa belum memberikan yang terbaik dan belum mendapat sesuatu. Hmm bukan. Bukan belum mendapat sesuatu. Tentu aku mendapat banyak hal dari organisasi ini mulai dari pelajaran mengenai jurnalistik sampai pelajaran hidup, sikap dan perilaku terutama. Bahkan kena marah, kritik dll sudah menjadi hal yang biasa buatku karena aku yang terlalu 'pintar'. Juga terkadang tangispun turut memberi warna dalam satu tahun kepengurusan ini. Namun tetap saja walaupun aku sudah menerima banyak hal aku merasa aku belum mengubah diriku menjadi orang yang lebih baik lagi. Yaa mungkin kata yang tepat untuk mengganti 'belum mendapat sesuatu' adalah belum menjadi yang terbaik, belum berubah sepenuhnya, belum ada perubahan yang signifikan. Masih menjadi Rezky yang teledor, ceroboh dll.
Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran dan juga pengalaman. Semoga aku bisa memberikan yang terbaik untuk organisasi ini. Amiiin ....

[Puisi] Sebuah Ruangan di Lantai Dua

Muhammad  Fahmi Alby (Masjaw)
Aku menghitung
Sudah 1460 malam
Aku tidur di sekretmu
Aku mengikat mimpi-mimpi
Merapal kata demi kata
Berapa banyak lagi
Sudah. Aku lelah membual
Kututup jendelamu, dingin.
Laba-laba berputar, memintal rumahnya
Di pintu yang kubolak balik setiap hari
Karpet kumal tua yang setia
Tak lelahkah engkau
Sudah sejauh ini kita
Lalu untuk apa lagi
Letih tidak kunjung ada
Aku patuh. Aku tidak bisa lagi
Semua hawamu adalah personaku
Aku tidak taat pula dengan deadline
Aku binal. Aku bengal padamu
Semua cerita tentang jurnalis itu omong kosong
Kau masih menghardikku
Dosa. Bualan. Sumpah serapahmu.
Aku sudah yakin
Aku bukan jurnalis yang kau minta
Aku hanya pengelana di ketiak senjamu
Dan pelanggan setia telur goreng pak Imam

Malam Minggu Rared

Malam minggu nge-date? Biasa (buat yang punya pasangan) ... Malam minggu gabut? Biasa juga ... (buat yang jomblo). Malam minggu nugas? Biasa ... (buat akademisi, deadliner sejati). Malam minggu rapat? Biasa .... (buat mereka yang sibuk kepanitiaan). Kalo malam minggu rared? Bbbeeeeeh ..... biasa juga (buat para kuli tinta dan kuli grafis kampus) hahahaha. Sebenernya sungguh sangat luar biasa mengingat para kuli tinta dan kuli grafis kebanyakan masih single, sekalipun udah double tetep merelakan malam minggunya terenggut untuk rapat redaksi ini.

Rapat redaksi (rared) buat kami para kuli tinta dan kuli grafis adalah hal yang wajar, sudah menjadi kebiasaan namun tetap sakral. Sakral terutama bagi kru yang masih muda, yang baru saja bergabung dalam keluarga ini. Rapat biasanya dimulai malam hari sekitar pukul 7 malam dan berakhir keesokan harinya (dini hari pukul 3-5 pagi biasanya). Proses rapat ini jelas berbeda dengan rapat (kepanitiaan atau organisasi) pada umumnya, menurutku. Mengapa? Dilihat dari segi waktu saja sudah berbeda. Rared menyita waktu luang dan relatif lebih lama dan biasanya dilakukan pada waktu malam hingga dini hari. Karena pada saat siang atau sore hari kami memiliki kesibukan masing-masing. Jadi, mau tidak mau aktifitas malam hari kami relakan demi rared. Rared juga menjadi salah satu kegiatan yang aku tunggu-tunggu. Karena entah kenapa waktu pertama kali merasakan rapat redaksi ada satu hal tersendiri yang membuatku menarik. 

Rapat redaksi ini kami lakukan setiap menjelang periode terbit. Gunanya untuk menyusun berita atau topik apa saja yang akan dimuat dalam tabloid. Seperti yang pernah aku ceritain di post ini --> Menunggu Cetak. Sebelum rared biasanya kami melakukan brainstorming atau yang biasa kami sebut pra-rared yakni penentuan ide-ide atau topik berita apa saja yang dapat dimuat dalam berita. Setelah ide tersebut terkumpul, kemudian diklasifikasikan sesuai jenis berita atau rubrik. Kemudian dibawa dalam rapat redaksi, penetuan view, narasumber, dan artistiknya. Dan akhirnya bergerilya mencari berita, menulis dan kemudian cetak. :)

Menunggu Cetak

Sudah sekitar dua bulan lebih lamanya menanti dan bekerja keras. Bertemu dengan narasumber yang akan menghiasi setiap lembar di halaman surat kabar kampus. Setelah jerih payah itu, nyatanya tabloid kami mundur terbit. Namun perjuangan itu tak henti sampai di situ. Kami masih berupaya untuk memperjuangkan "harta" kami untuk naik cetak. Kita mulai dari awal lagi. Rapat redaksi, proses bertemu narasumber, proses penulisan, proses peng-editan tulisan, kemudian masuk proses yang terakhir- finishing yang merupakan pekerjaan para kuli vektor aka layouter. Dan yang paling terakhir adalah cetak.

Saat ini aku sedang menanti hal yang paling terakhir itu. Menunggu hasil jerih payah kami (seluruh kru) dinikmati oleh khalayak kampus. Saat "pulang" ke sekret dan menemukan tumpukan koran yang baru saja dicetak menumbuhkan rasa kepuasan tersendiri. Apalagi setelah melewati proses yang cukup lama itu. Kalo orang bilang namanya "prestice" atau kebanggaan tersendiri setelah melihat hasil liputan, hasil foto, kartun, iinfografis dll terpampang di sebuah media cetak. Walaupun memang masih dalam skala kecil, ukuran kampus. Tapi jelas tetap menimbulkan rasa bangga, haru, senang. 

Pernah sempat aku menangis gara-gara hal ini. Bukan. Bukan karena berhasil naik cetak justru kalau hal itu terjadi aku senang bukan kepalang. Lantas? Aku menangis karena yang terjadi adalah hal sebaliknya. Sedih sekaligus sakit hati mungkin rasanya membayangkan hasil jerih payah ku dan yang lainnya sia-sia saja. Air mata itu tiba-tiba saja keluar tanpa mau berhenti, padahal sudah kucoba untuk tetap santai. Tapi kekecewaan yang cukup mendalam ternyata tak mampu membendung tangis. Tak ada bantahan yang keluar dari mulut kami ketika mendengar kabar tersebut. Yang ada hanya rasa bersalah, shock dan kecewa. Begitu pun hal yang sama terjadi padaku. Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, aku berpikir kenapa dulu aku tak membantah dan tetap bersih keukeuh untuk membuat hasil jerih payah kami jadi nyata.

Aah, sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Jadikan hal itu sebagai sebuah pengalaman kelak agar tidak terulang kembali. Yang terpenting adalah sekarang aku sedang menunggu hasil jerih payah kami jadi nyata. Yaa ... dalam beberapa hari lagi, hasil jerih payah kami tersebar dan dibaca oleh masyarakat di seluruh penjuru kampus. Aaah ... aku jadi tidak sabar melihatnya. Oh iya, satu lagi yang membuatku tidak sabar. Tampilan baru surat kabar kami yang jelas akan terlihat berbeda dari segi ukuran dan kertas. So?? Let see the differences hehehe ...

Jurnalisme Tidak Memihak Tidak Mencela

Jurnalisme adalah sebuah wadah ideal bagi manusia. Manusia ideal adalah jurnalisme. Ia tidak berpihak selain pada kepentingan publik. Ia tidak mencela tapi hanya memaparkan apa yang ada. Ia tidak pernah punya rasa benci apalagi menyebar kebencian. Ia memberikan solusi bagaimana seharusnya dan mengkoreksi dengan kata solusi. Meski ia tidak pernah bicara, ia selalu memberi penjelasan tentang maasalah. Ia tak pernah berbohong karena ia tidak pernah bicara. Ia hanya otak yang punya nilai juang. Ia hanya konsep yang mengarahkan.



Tulisan ini ditulis tangan di sebuah kertas bekas oleh entah siapa. Saya menemukan ini di sekret korankampus, dan hanya ingin mengabadikannya. Untuk siapapun yang menulis ini, saya mohon izin menuliskannya dalam laman pribadi saya. Terima kasih. 

Being A "Jurnalis Kampus"

Konferensi Pers dengan Prabowo Subianto di ruang sidang gedung rektorat
Kunjungan Prabowo ke IPB jumat (28/2) lalu memberikan sebuah pengalaman baru lagi buat gue. Profesi gue sebagai seorang reporter di kampus atau istilah sangarnya wartawan kampus memberikan kesempatan dan peluang yang cukup bagus bertemu dengan orang-orang penting (dengan mudahnya). Jarang-jarang kan mahasiswa (biasa) bisa bertemu dengan orang penting dengan mudahnya. Kalo bukan dari kalangan eksekutif, aktivis, atau kalangan orang-orang yang memang kerjaannya bertemu orang penting, kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting, petinggi kampus bahkan negeri hanya sedikit.

Prabowo sesaat sebelum meninggalkan IPB di lapangan sepakbola gymnasium
Profesi gue sebagai seorang reporter ini memberikan kesempatan yang sama tingginya dengan seorang eksekutif (presma) atau aktivis kampus. Mungkin bahkan bisa lebih tinggi. Bisa bertemu, wawancara, memotret dari jarak yang cukup dekat, atau mungkin bahkan berkenalan dengan para petinggi tersebut itu sesuatu hal yang menurut gue (sebagai mahasiswa) itu "WAAAH" banget. Dengan kata lain gue beruntung jadi seorang reporter. Yaa, contohnya aja waktu kunjungan Prabowo ke IPB. Gue bisa melihat beliau dengan jarak hanya beberapa meter, berada dalam satu ruangan bersama beliau dengan beberapa media nasional lainnya. Ini kedua/ketiga kalinya gue bekerja berdampingan dengan media nasional. Kali pertama itu saat gue meliput aksi di gedung KPK. Jujur, ini suatu kebanggaan tersendiri buat gue. Gue mencoba buat nggak naif yaa .. Nggak cuma itu, di kunjungan Prabowo kemarin gue juga sempat bersalaman dengan beliau. Walaupun gue seorang reporter, di sisi lain gue juga seorang mahasiswa (biasa), yang seneng bisa bertemu dengan 'orang penting'. Yang jelas saat gue jadi seorang reporter yaa gue harus profesional. 

Sebelumnya gue juga pernah bertemu dengan Julian Aldrin Pasha, seorang Jubir Presiden, saat Presiden SBY berkunjung ke IPB. Gue bertugas untuk meliput beliau, sedangkan beberapa kru lain meliput orasi ilmiah SBY di GWW dan meliput kedatangan beberapa menteri di Gedung Rektorat. Lagi-lagi kesempatan emas buat bertemu dengan 'orang penting'. Walaupun saat bertemu beliau gue nggak sempet wawancara, karena beliau juga terburu-buru. Yaa ... kapan lagi coba bisa bertemu dengan 'orang penting'. Well, keinginan gue jadi reporter yaa nggak lepas dari yang gue ceritain ini, selain ketemu dengan 'orang penting' (dengan mudah tapi kadang juga susah), bisa jalan-jalan (gratis). Untuk saat ini buat liputan jalan-jalan dan gratis itu masih belum kesampaian siih. Tapi buata ukuran mahasiswa, bertemu 'orang penting' itu udah amat sangat cukup banget kok. Kapan lagi lo bisa wawancara/ngobrol sama presma, sama orang-orang di rektorat, sama rektor dan wakil rektor. Selain bisa bertemu dengan mereka tentunya ada info dan ilmu baru yang bisa lo dapetin. Itu alasan kenapa gue memilih jadi seorang reporter di Koran Kampus IPB. Hahahahaha.. 

Oh iya satu lagi, gue wawancara atau bertemu dengan 'orang-orang penting' itu nggak sendirian kok. Selalu ada partner yang setia menemani hahaha. Dia adalah INEM. Entah kebetulan atau apa, tiap kali ada kegiatan meliput mereka gue selalu berdua dengan partner gue itu. Meliput aksi, meliput jubir, meliput Prabowo, selalu meliput bareng ine. Cuma satu yang belum kesampaian niih, sebagai seorang wartawan kampus belum lengkap rasanya kalo belum meliput atau wawancara petinggi di IPB alias Pak Rektor. Istilahnya gue udah ketemu banyak orang luar tapi belum pernah ketemu dengan beliau. Padahal waktu kunjungan Prabowo itu ada beliau, tapi yaudah sekedar lalu aja, belum berbicara secara langsung gitu. Hehehe ... Hmm gapapa pasti ada jalan dan kesempatan untuk wawancara langsung dengan beliau. Another dreams gue niih. Firasat gue siih, nggak lama lagi gue bisa melakukan itu, doakan saja yaa hehehehe...

Yaa itu tadi sedikit pengalaman gue menjadi seorang jurnalis kampus. Thats why I love my job, I love being a journalist, being a reporter, yang membuat gue terkadang bukan menjadi mahasiswa biasa. Tapi juga kadang gue sedikit minder ketika gue belum bisa menerapkan kejurnalisan gue dengan baik dan benar. Thanks buat KORPUS yang membesarkan gue, yang memberi gue banyak pengalaman dan pembelajaran baik dari organisasi itu sendiri atau pengalaman dan pembelajaran sebagai seorang reporter. Terus mencetak orang-orang hebat yaa pusss... :p ;D

Random post on February

Haii ...

Sudah dua minggu lebih dua hari gue nggak nulis di blog lagi. Karena kesibukan pun tak ada kabar atau hal-hal yang bisa menjadi bahan untuk menulis di blog. Seminggu masa perkuliahan sudah gue jalani dengan cukup mulus. Semangat yang masih terbilang baru karena baru saja di smi selama liburan masih cukup jadi stok selama bulan ini. Yaa harapannya siih nggak cuma bulan ini doang tapi bisa sampai akhir semester genap ini.

Oh iyaa, gue resmi jadi mahasiswa tingkat dua semester genap. Dan dalam beberapa bulan lagi (yang begitu cepat rasanya) gue akan memasuki zona mahasiswa senior tingkat tiga. God!! Ini terlalu cepat berlalu. Antara siap dan nggak siap tapi harus siap. Menyebalkan. Masa muda sebentar lagi habis broo. Jangan sampai disia-siakan, nikmati sambil berjuang untuk hidup yang lebih baik.

Well.. postingan gue kali ini emang random banget nget nget karena emang nggak tau harus nulis apa, cerita apa. Ada siih beberapa hal yang bisa diceritain, tapiii gitu deeh hahaha.. Semalem gue udah mulai rapat redaksi lagi buat koran edisi 49. Begadang semalam suntuk mencari berita yang pas untuk dimuat. Brainstorming tapi nggak kerasa brainstormingnya.. Eeeh ralat, ide berita alias tema udah ada, tinggal uji kelayakan dan view yang pas untuk dimuat.. Yaah semoga koran edisi kali ini berjalan lancar, no ngaret. Biar tepat waktu sesuai timeline yang udah dibuat. Nggak cuma itu, tapi isi beritanya juga mantep.

Amiiiin...

[Late Post] Kenangan 2013 Part 1 - Aksi 15 Tahun Reformasi

Aksi 15 Tahun Reformasi

Aksi 15 Tahun Reformasi
21 Mei 2013, Pertama kali terjun ke lapang untuk meliput aksi. Aksi yang cukup besar karena mengusung tema 15 tahun reformasi dan menuntut janji Abraham Samad, Ketua KPK beberapa tahun yang lalu. Aksi ini dilakukan BEM SI, diantaranya IPB, UGM, UNPAD, UIN, UNJ, UnTaz dan beberapa universitas lain. Berlokasi di gedung KPK mereka melakukan aksinya. Saat rombongan dari IPB datang, ternyata sudah banyak massa yang sedang berorasi di depan gedung tersebut. Gue sama Ine deg-degan sekaligus seneng dapet 'job' ini. Karena emang ini pertama kalinya gue ikut aksi, eeh bukan ikut terlibat dalam aksi tapi menurut gue hal yang lebih kece lagi yaitu LIPUTAN jalannya aksi itu. Di sana nggak cuma mahasiswa dan polisi tapi juga ada beberapa media besar yang ikut meliput. Gue sama Ine makin seneng aja, karena berasa jadi Jurnalis beneran hahaha. Trus selama ini bukan jurnalis beneran doong? Bukan gitu maksudnya tapi gimana yaa.. feelnya lebih beda aja gituu heheheee... 

Di sana gue melihat beberapa pemandangan yang unik. Ada beberapa bocah pemulung berada di sekitar gedung KPK dan mahasiswa yang lagi aksi. Mereka main di selokan dan mengumpulkan sampah. Agak miris melihatnya. Di tengah aksi menuntut janji korupsi ada 'mereka' dan menghiraukan mereka. Entah terbersit di pikiran gue, kenapa mereka (yang aksi) mau capek-capek panas-panasan, teriak-teriak cuma buat menuntut janji yang menurut gue KPK udah berusaha semaksimal mungkin buat mengurus segala bentuk korupsi di negeri ini. Kenapa mereka nggak langsung terjun ke masyarakat, membantu mereka. Langkah terlihat lebih nyata kan daripada teriak-teriak kayak gitu. Mending kalo didengerin sama 'Petinggi' lhaa kalo nggak kan yaa sama aja buang-buang tenaga. Walaupun ada yang bilang "Nggak ada yang sia-sia". Trus fenomena satu lagi, ada mahasiswa dari salah satu universitas yang ikut aksi juga. Tapi ini bukan mahasiswa biasa. Menurut gue dia mahasiswa yang cukup luar biasa. Karena dari kekurangan tubuhnya dia masih bisa ikut aksi di KPK dan dia juga bilang ini bukan aksi pertama yang dia ikuti. Heeraan sekaligus cukup kagum sama dia. Pas ditanya kenapa ikut aksi, dia bilang karena seneng aja. Whaat? Nggak habis pikir kenapa dia bisa seneng ikut aksi. Apa enaknya aksii?? Hanya mereka yang tau ...

Tapi setelah liputan ini, gue sama Ine jadi doyan buat ngeliput aksi... sekali lagi yaa buat liputan bukan buat ikutan aksi. :p

Naah gambar di bawah ini beberapa gambar saat aksi. Ada foto mahasiswa luar biasa tadi dan foto anak jalanannya juga kalo kalian nggak percaya hehehe :)

kondisi aksi
gue sebelum ngeliput aksi 15 tahun reformasi
partner gue (ine)
kondisi aksi di dean gedung KPK
Miris. Di tengah aksi 15 tahun reformasi masih ada 'mereka'.
Bapak polisi kece yang lagi 'jaga'
yang unik dari aksi kali ini, bisa dilihat kondisinya. Dia adalah mahasiswa unpad yang ikut aksi.
with my beloved partner :D
pakaselesai aksi
INE!

SEKIAN!

* salah satu memorable moments nggak akan terlupakan :)

What was happen in 2013?

2013 sebentar lagi berakhir. Hari demi hari udah gue lalui, ada yang flat ada juga pastinya yang istimewa iyaa kan? Yang flat maupun yang istimewa itu akan menjadi kenangan tersendiri buat gue yang tersimpan di pikiran atau hati gue. Walaupun ingatan gue semakin lama bukan semakin tajam malah semakin tumpul inii, tapi ada beberapa hal yang masih gue inget. Inilah Kenangan indah versi gue:

1. Gue ngeliput aksi bareng partner gue sekaligus sahabat gue di KPK. Setelah dinyatakan lulus dan menjadi anggota korpus, langsung ngeliput aksi. Ini kece menurut gue hahaha karena gue juga ketemu sama beberapa orang hmm...
2. Berhasil dapet presscard dan baju lapang koran kampus. Setelah beberapa bulan dapet pelatihan-pelatihan tentang jurnalisitik.
3. Aaah gue mendapat reward "Tersekret" waktu makrab korpus. Ini unik.
4. Gue ke PANTAI!! Akhirnyaaaa yaa.... Yup, gue ikut acara Kemah Riset (KERIS) yang diadain sama Bem Fema. Keris kali ini diadain di Pantai Ujung Genteng.
5. Magang Retro (bem) yang bikin gue makin tertarik, padahal awalnya nggak.
6. Kelompok Komunikasi Bisnis gue (Si Oentjal) menang 2 kategori di Communication Day. It's AWESOME!
7. Hmm Alhamdulillah dapet amanah di korpus.
8. Beberapa hari lalu gue meliput diskusi mahasiswa bareng Juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha. #WhatAMoment
9. Punya "keluarga" baru korpus 9, keluarga besar korpus ipb dan ISDC :)
9. The last and the best gue menemukan orang-orang yang berharga buat gue, merekaa (Ine, Rona, Hafizh, dan Masjaw).

Arigatou Gozaimasu for all the momen you give to me :)
Terima kasih sebesar-besarnya gue ucapkan dan gue tujukan untuk Koran Kampus IPB (ku tercintah). Karena sebagian besar kenangan terindah gue itu yaaa karena Korpus IPB :D

Teruntuk Kamu yang 'Menghilang'

"Karena pintu 'rumah' kita selalu terbuka untuk kamu yang ingin, akan, atau bahkan kembali pulang :)"
"Bila memang tertutup, buka saja dan kamu akan mendapati keluargamu kembali. Membiarkanmu menghilang bukan berarti melepaskanmu untuk pergi seutuhnya. Hanya saja, membebaskanmu untuk m'dapatkan sesuatu yg baru. dan aku yakin, hingga suatu saat nanti kamu akan kembali pulang. Kembali menjalankan kehidupan bersama 'keluarga'mu. Hingga sampai saat itu tiba, aku dan seluruh 'keluarga' akan menunggumu di 'rumah'. Menunggu saat kau membuka pintu 'rumah' & kembali. Karena memang hanya 'rumah' tempat kita kembali pulang (untuk saat ini)."

Akhir Bulan

Last Day on October ...
Pfiuuh ...
Bulan ini akan segera berakhir dengan tenang sepertinya. Tak ada yang tau, karena skenario kehidupan itu hanya Yang Maha Pencipta yang tahu. Benar-benar terlewati tanpa terasa sudah di penghujung bulan dan akan memasuki bulan baru. Banyak. Banyak sekali hal yang tidak terduga terjadi di bulan ini. Banyak hal-hal di luar bayangan dan di luar keinginan terjadi. Yaa bahkan terlalu banyak.

Sejak Kapan?

Sejak Kapan??
Entah sejak kapan lima makhluk ini selalu bersama. Akhir-akhir ini lebih tepatnya. Karena aktivitas yang mendukung untuk selalu bersama. Tiap pulang abis nyekret, makan selalu berlima, seringnya sih ramean sama yang lain, tapi lima orang ini hampir selalu bersama tiap malam. YAP. KNB. lima orang nista.

Awalnya cuma berdua, lalu bertiga, lalu berempat dan kemudian berlima. Entah cukup segini atau akan menambah personil baru. Yaa, dan gue beruntung bertemu dengan keempat orang nista ini. Kesamaan tipe mungkin yang membuat seperti ini. Hmm, tanpa disadari pun bila ada sesuatu hal empat orang ini yang jadi sasaran utama. Entah mau makan, nongkrong, curhat atau sekedar bertanya "Dimana??". Yup, dan itu terjadi nggak cuma gue, tapi mereka juga melakukan hal yang sama.

Malam ini gue dan orang lainnya sempat membahas ini. Sejak kapan kita kayak gini? Bingung. Karena menurut gue ini terjadi begitu saja. Nggak ada yang tau pasti sejak kapan. Hahaha yasudaah biarlah... Biarkan ini berjalan alami. Gue harap siih, bisa bertahan sampai nanti kakek nenek, dan maut memisahkan. Hmm.. ini berlaku nggak cuma buat KNB tapi buat korpus dan Korpus 9 terutama.