Menunggu Cetak

22.49 rezkyka 0 Comments

Sudah sekitar dua bulan lebih lamanya menanti dan bekerja keras. Bertemu dengan narasumber yang akan menghiasi setiap lembar di halaman surat kabar kampus. Setelah jerih payah itu, nyatanya tabloid kami mundur terbit. Namun perjuangan itu tak henti sampai di situ. Kami masih berupaya untuk memperjuangkan "harta" kami untuk naik cetak. Kita mulai dari awal lagi. Rapat redaksi, proses bertemu narasumber, proses penulisan, proses peng-editan tulisan, kemudian masuk proses yang terakhir- finishing yang merupakan pekerjaan para kuli vektor aka layouter. Dan yang paling terakhir adalah cetak.

Saat ini aku sedang menanti hal yang paling terakhir itu. Menunggu hasil jerih payah kami (seluruh kru) dinikmati oleh khalayak kampus. Saat "pulang" ke sekret dan menemukan tumpukan koran yang baru saja dicetak menumbuhkan rasa kepuasan tersendiri. Apalagi setelah melewati proses yang cukup lama itu. Kalo orang bilang namanya "prestice" atau kebanggaan tersendiri setelah melihat hasil liputan, hasil foto, kartun, iinfografis dll terpampang di sebuah media cetak. Walaupun memang masih dalam skala kecil, ukuran kampus. Tapi jelas tetap menimbulkan rasa bangga, haru, senang. 

Pernah sempat aku menangis gara-gara hal ini. Bukan. Bukan karena berhasil naik cetak justru kalau hal itu terjadi aku senang bukan kepalang. Lantas? Aku menangis karena yang terjadi adalah hal sebaliknya. Sedih sekaligus sakit hati mungkin rasanya membayangkan hasil jerih payah ku dan yang lainnya sia-sia saja. Air mata itu tiba-tiba saja keluar tanpa mau berhenti, padahal sudah kucoba untuk tetap santai. Tapi kekecewaan yang cukup mendalam ternyata tak mampu membendung tangis. Tak ada bantahan yang keluar dari mulut kami ketika mendengar kabar tersebut. Yang ada hanya rasa bersalah, shock dan kecewa. Begitu pun hal yang sama terjadi padaku. Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, aku berpikir kenapa dulu aku tak membantah dan tetap bersih keukeuh untuk membuat hasil jerih payah kami jadi nyata.

Aah, sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Jadikan hal itu sebagai sebuah pengalaman kelak agar tidak terulang kembali. Yang terpenting adalah sekarang aku sedang menunggu hasil jerih payah kami jadi nyata. Yaa ... dalam beberapa hari lagi, hasil jerih payah kami tersebar dan dibaca oleh masyarakat di seluruh penjuru kampus. Aaah ... aku jadi tidak sabar melihatnya. Oh iya, satu lagi yang membuatku tidak sabar. Tampilan baru surat kabar kami yang jelas akan terlihat berbeda dari segi ukuran dan kertas. So?? Let see the differences hehehe ...

You Might Also Like

0 comments: