Showing posts with label puisi. Show all posts

Rindukah?

Diam ...
ternyata membuatku semakin sesak
seolah ada sesuatu yang mengganjal di dada
namun tak bisa dibebaskan
sesak ...

apa yang terjadi?
bayangmu yang muncul
memperparah keadaan

apa maksud semua ini?
rindukah?
pada siapa?
pada-Nya kah?
atau pada ciptaan-Nya?

jika memang benar ini rindu,
rindu pada ciptaan-Nya
biarkan tersimpan dan tertata dengan rapi
hingga pada akhirnya waktu yang menjawab
atas izin-Nya

Katanya

Katanya,
Hati dan mata itu tak pernah berdusta.
Katanya,
Kata hati itu yang paling jujur,
Katanya,
Pancaran mata itu berkata apa adanya,
Katanya,
Mulutlah yang pandai berdusta,
Katanya,
Telingalah yang setia mendengar keluh
Katanya.

Benarkah?

[Puisi] Untukmu yang Seperti Angin

Kau masih saja dingin
Tidak ada ruangkah
sebuah nama yang ingin kusebut
Kau tetap saja
Mencarimu seperti burung
Tak tahu kapan angin mengarahkanmu
Dan kau hinggap
Tahukah kamu
Mereka menertawai kita
Aku kaku dipasung
Mukaku memar menahan tangis
Seandainya malam kita panjang
Takkan kusudahi makan malam kita
Aku ingin semuanya melambat
Kutahan semauku
Kubebat rinduku sedalamnya
Aku ingin malam kita
Melompat lagi di suatu masa
Aku terjerat pingkalmu yang tak henti
Kau pasti menyerah
Dan aku tak lagi berharap
Cuma itu. Sayang.


Didedikasikan kepada seorang wanita,
untuk lelaki yang disukainya,
oleh Muhammad Fahmi Alby (Masjaw)

[Puisi Berantai] Tak Berjudul Part III

(Ijah, Masjaw, Fara, Rezky, Anin)

Aku merindumu sepintas lalu.
Di detik itu pula aku tersedu.
Sedahsyat itukah bayanganmu menghunjam?

Aku mati suri
Berpegangan tanganmu
Digigiti semut dan lalat hinggap
Kita menjemput dia
Menyamun ruang-ruang peninggalan
Kau diam, menutup mulutku
Kau bilang kita bukan lagi abu
Kita bidak yang malu
Kita bukan kapur warna warni
Kita hanya sepasang mahluk singgah
Dan kita menyunggingkan firasat
Dan takkan selesai bertemu

Rindu itu selalu ada walaupun kita berusaha menyingkirkannya
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya,
Aku tak peduli ku terus berlari
Cepat pulang..

Hatiku bergetar ketika menatap sepasang matamu, 
seperti gempa tektonik berskala Richter tinggi yang berpotensi tsunami.
 
Mata yang selalu membuatku bertanya tanya
Ini nyata atau hanya sekedar mimpi?

Gerimis yang melukis sebentuk wajahmu kusadari hanyalah tipuan hujan pagi.
Ia hadir sekelebat, bagai bintang jatuh yang dinanti berjuta umat.
dan jendela ini yang membentengi aku dari segala tipuan.
mencegahku menghambur keluar,
untuk mendekap sebentuk wajah gerimis itu,
dan tersedu di bawah langit kelabu.

Gerimis menutupi tetesan air mata itu
Beruntung tak seorang pun melihat
Namun harap tetaplah harap
Rindu tetaplah rindu
Yang akan terus menumpuk
Hingga akhirnya tumpah layaknya banjir bandang yang tak terbendung

Engkau. 
Gerimis yang membuatku meringis. 
Badai yang membuatku menyeringai. 
Senja yang mendekapku manja.

Ah, kita memang menjajaki kerak bumi yang sama, 
menerawang atmosfer dengan awan yang sama. 
Tapi, apakah Tuhan kelak menjadikan kita satu senyawa?
 
Kau meminta senja
Aku menurut
Kau ingin jingga
Aku menurut
Kau menolak nafsuku
Aku menurut
Kau menghujamkan angkuh
Aku menurut
Kau suruh aku diam
Aku menurut
Kau marah, kau tak lagi suka
Kau ingin aku berbuat
Aku lemah menjawab:
Apasih mau kamu?
Kurang nurut apasih aku sama kamuuu?

Aku mendambakanmu 
seperti sepasang mata yang menanti spektrum aneka warna 
setelah langit menangis.

[Puisi Berantai] Tak Berjudul Part II

 (Uda david, Ijah, Fara)

Biarkan di barat sana ada empat musim,
Di sini hanya ada dua musim, untukmu...
Sebab cinta mestinya hatiku dan hatimu,
Tanpa hatinya...

Sejatinya cinta tak mengenal musim.
Sebab keberadaannya menghadirkan hangat di kala dingin menyengat.
Menyejukkan segala yang terlihat.
Layaknya pelangi yang datang selepas hujan lebat.

Aku mencintaimu seperti angin musim timur
Yang membawa hujan,
Yang membawa kehidupan bagi makhluk-Nya.

Yah, selepas hujan itu aku ingin mengunjungimu dalam rupa gerimis, jah..
Dalam sisa gerimis yg bermain di ujung2 daun yg menguning...
Aku menatap suatu masa dimana ada aku dan senyummu..
Dalam dingin yg menelusup tulang, aku berselimut dalam kenangan..
Kudengar jelas suaramu, masih bisa kueja tiap derai katamu...
Dalam hening seusai hujan, aku akui aku merindumu..
Hai gadis berbaju kelabu, adakah di sana kau mengingatku ?

Hai pria peramal cuaca, bolehkah aku merapal cinta?
Hujan punya caranya sendiri untuk menyatakan rasa.

[Puisi Berantai] Tak Berjudul Part I

(Masjaw, Ijah, Rezky)

Tanggal 29 mei 2013
Di malam yang sayup
Seorang malaikat telah turun
Dengan mata bulat teduh
Berayun di lidah pintu.
Maka sambil membuat bahana indah
Dinyanyikan lagu
Yang mengandung sebuah berita
Yang bagus.
Dan tangannya terjulur indah
Terjuntai.

Padahal sejatinya romantisme hanyalah ilusi.
Ia tak ubahnya permainan rindu
Yang memaksamu tinggal pada secawan harapan yang bahkan palsu.

Menyisakan tangis pedih dalam hati
Dalam sebuah ruang terbuka namun kosong
Sepi...
Sunyi...

Candu yang bahkan sepengap camp konsentrasi di sarajevo. 
Romantisme tidur telungkup, 
Menertawai kita yang semalaman tak bisa tidur 
Karena papan ini tak beranjak diam karena diketik

Dan sekejap candu berubah pilu. 
Tersisa angan yang kosong dalam genggaman.
Hampa,
Angan pergi tanpa suara.

Sengaja kukunci kenangan di batas senja,
biar bisa kunikmati setiap jengkalnya tanpa jeda.
Berulang, dan tak mau pulang.

Lihatlah aku masih muda
Biarkan aku menjaga sukmaku
Silakan bubar.
Ijinkan aku memuliakan kesucian
Aku akan kembali ke surau
Merenungkan kefanaanmu
dan aku tersedak malu

[Puisi] Sebuah Ruangan di Lantai Dua

Muhammad  Fahmi Alby (Masjaw)
Aku menghitung
Sudah 1460 malam
Aku tidur di sekretmu
Aku mengikat mimpi-mimpi
Merapal kata demi kata
Berapa banyak lagi
Sudah. Aku lelah membual
Kututup jendelamu, dingin.
Laba-laba berputar, memintal rumahnya
Di pintu yang kubolak balik setiap hari
Karpet kumal tua yang setia
Tak lelahkah engkau
Sudah sejauh ini kita
Lalu untuk apa lagi
Letih tidak kunjung ada
Aku patuh. Aku tidak bisa lagi
Semua hawamu adalah personaku
Aku tidak taat pula dengan deadline
Aku binal. Aku bengal padamu
Semua cerita tentang jurnalis itu omong kosong
Kau masih menghardikku
Dosa. Bualan. Sumpah serapahmu.
Aku sudah yakin
Aku bukan jurnalis yang kau minta
Aku hanya pengelana di ketiak senjamu
Dan pelanggan setia telur goreng pak Imam

[Puisi] Bayangmu ..

 (special for masjaw)
David Pratama

Di bawah pinus itu aku kini, na. 
Menyaksikan alang-alang dan aneka kembang 
Yang tumbuh liar sekitar sepuluh langkah dari pinggir danau...
Aku ditindih kenangan. 
Kilatan cahaya di riak danau menampilkan riangmu...
Kugambar-gambar senyum dan lesung pipimu di udara.
Hingga aku seperti digasing. 
Berputar.. 
Dan kemudian rubuh seperti kijang tertusuk panah...

Aku Ingin

Aku ingin mengenalmu lebih dalam,
Aku ingin menyelami kehidupanmu,
Aku ingin mengerti arti tatapanmu,
Aku hanya ingin ... 
Bisakah aku?? 
Hanya waktu yang dapat menjawab   
 

Puisi - HUJAN BULAN JUNI

HUJAN BULAN JUNI
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Senja Tadi



Senja tadi ...
Langit menguning kemudian berubah jingga
Tidak sebagian bahkan seluruhnya
Jingga ...

Senja tadi ...
Kutemukan pelangi, cantik
dengan setengah lingkarannya

Senja tadi ...
Aku melihatnya dari balik jendela
Jingga yang melengkung di sebelah barat
Berusaha mendekat namun tak sampai

Senja tadi ...
Langit mulai gelap, mendung
Kulihat kilatan listrik di langit
Megah dan tangguh.


Puisi - Percakapan Malam Hujan

Percakapan Malam Hujan
Sapardi Djoko Damono

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam."

"Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang."


dan kesedihan yang sering terasa saat sendiri... atau apakah kesedihan memang untuk dinikmati sendiri?
entah..

Puisi - Sajak Kecil Tentang Cinta

 Sajak Kecil Tentang Cinta
Sapardi Djoko Damono

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

Puisi - Aku Ingin

 AKU INGIN
Sapardi Djoko Darmono


“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Kehabisan energi

seperti kehabisan energi,
aku butuh energi lebih,
aku butuh baterai yang siap diisi bila energiku mulai melemah,
atau mungkin aku hanya butuh istirahat?

Hai Senja

Hai Senja ....
Lama tak berjumpa
Apa kabarmu?

Hai Senja ....
Terlalu lama aku bersembunyi
Hingga akhirnya lelah dan menyerah

Hai Senja ....
Aku keluar dari persembunyian
Memandang mega jinggamu di ufuk barat
Membentuk gradasi di langit luas

Biru muda, Jingga, Biru tua
Kemudian gelap ...

Hai Senja ....
Sampaikan salamku,
Kepada sang pemilik malam
Aku mencariNya,
 Aku merindukanNya,
Aku mencintaiNya.

[Puisi] Sebuah Tanya



Soe Hoek Gie, Selasa 1 April 1969

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun jurun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(hari pun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kenal berbicara
dalam bahasa yanj kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru.


Angin

Angin ...

Tak terlihat tapi dapat dirasakan

Tak bersuara tapi dapat didengarkan

Kadang lembut, menenangkan

Kadang kasar, merusak

Kadang panas, kadang dingin, kadang lembab

Itu lah angin yang kurasakan


Aku dan Sang Waktu

Hanya mencoba menikmati waktu yang kian hari berjalan semakin cepat.
Seolah tak ada waktu lagi untuk menikmati hidup.
Membiarkannya mengalir bak air yang mengalir di sungai dengan bebatuan yang terkadang menghalangi aliran tersebut.
Bukan pasrah tak ada usaha untuk melawan aliran.
Namun berusaha melewati batu yang menghadang agar tak tertahan.
Hingga akhirnya membawaku sampai pada muara. 
Sampai saat itu tiba..
Mungkin aku bukanlah lagi daun yang layu yang jatuh dari pohonnya.
Tapi aku adalah kayu yang kokoh yang siap untuk dibangun.

Air mata..

Dan air mata itu,
Berlomba-lomba untuk keluar
Tak ingin lagi dipenjara
Oleh sang pemilik
Tak tahan lagi lebih lama bersembunyi,
Kini ia telah bebas
Membasahi pipi,
Menenangkan jiwa...

Lemah.
Kita selalu mengira bahwa menangis itu lemah. Padahal, menurutku tidak juga. Terkadang menangis itu bisa membuat kita lebih kuat menghadapi cobaan. Bisa menenangkan jiwa. Terkadang hanya dengan menangis kau bisa merasa sedikit lebih tenang kan? Walau memang menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi, begitulah yang dirasakan kaum perempuan. Mereka menangis disaat merasa tak mampu menghadapi cobaan, atau memang sedang 'down' dan tak tau lagi apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang juga, kalau menangis itu laah yang membuat perempuan menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih tegar daripada laki-laki, karena perempuan melepaskan 'emosi'nya, perasaannya. Beda dengan laki-laki, mereka lebih/cenderung ke menyembunyikannya atau memendamnya saja. Mereka terlihat kuat diluar tapi lemah didalam, sedangkan perempuan lemah diluar tapi kuat didalam, dan aku... Aku ingin terlihat kuat jiwa dan raga..

Bahas soal menangis, bukan berarti perempuan harus menangis di setiap saat mereka mendapat masalah atau apalah itu. Menurutku itu cengeng dan itu berlebihan. Jujur saja aku tidak suka dengan tipe yang seperti itu. Setidaknya ada saat kau memang perlu mengeluarkan air mata itu bukan setiap saat. Jujur saja aku bukan tipe orang yang suka menangis. Aku suka memendam dan menahan rasa tangisku, hingga akhirnya tangis itu pecah. Setelah itu terasa lega, seolah bebannya berkurang sedikit, padahal belum. Dan aku selalu berpikir bahwa menangis itu lemah, terlihat lemah. Tapi bagaimanapun juga aku perempuan. Naluri menangis itu pasti ada. Mau ditahan sekuat apapun agar tidak menangis, tentu saja tidak bisa. Karena suatu saat air mata itu akan mengalir keluar, disaat kau tak bisa lagi menahannya. Yaa, aku selalu mencoba untuk tersenyum walau pedih :)