Selamat Lebaran di Jakarta (lagi)

00.29 rezkyka 0 Comments

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 
 1435 H
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Saat saya menuliskan postingan ini, sudah H+4 lebaran dan saya belum mengucapkan sepatah kata maaf pun melalui blog ini. Kepada para pembaca yang gue rasa nggak ada yang berminat membaca blog ini saya, selaku pemilik blog memohon maaf sebesar-besarnya bila selama ini dalam penulisan atau apapun yang pernah saya tulis dalam blog telah menyakiti hati pembaca semua. Mohon dimaafkan yaah.. Dan Selamat berlebaran dengan keluarga di rumah :)

Sekian intermezzonya karena saya hendak bercerita mengenai Tahun Ketiga Lebaran di Jakarta ...

 2014. Adalah tahun ketiga saya merasakan dan merayakan hari kemenangan umat Islam di Jakarta, kota rantau saya. Lantaran mobil yang biasa keluarga saya gunakan untuk pulang kampung belum selesai diperbaiki. Padahal sudah tiga tahun lamanya. Entah mengapa bisa selama itu. Hmm Lebaran di Jakarta itu rasanya ... hambar dan sepi tentunya. Karena memang tidak banyak sanak saudara yang tinggal di Jakarta, hanya beberapa kerabat dekat orang tua saja. Pun tak ada yang mengunjungi rumah (mungkin karena kerabat dari orang tua tahun ini pulang kampung). Lebaran tahun ini juga sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Tidak ada sesi "keliling-keliling" ke tetangga sekitar. Sesi tersebut digantikan dengan "Halal bi halal" di Musholla Ar-Rahman, sebuah musholla komplek. Seluruh warga diminta untuk berkumpul di Musholla tersebut setelah Sholat Ied usai. Kemudian dilanjut dengan takbir dan doa serta prosesi "salam-salaman". Halal bi Halal tersebut berlangsung sekitar 1-2 jam dimulai pukul 08.00 ba'da Sholat Ied. 

Tahun lalu juga diadakan halal bi halal di tempat yang sama, namun lebih cepat kemudian masih dilanjut dengan sesi "keliling-keliling" ke tetangga sekitar. Karena cukup banyak warga yang datang Halal bi Halal ke Musholla di tahun ini, sehingga tidak ada orang yang berkeliling ke rumah-rumah. Hanya sebagian orang yang masih melakukannya ke beberapa rumah yang di-tua-kan di sekitar komplek. Aah itu sudah jelas dan sudah pasti, seolah sudah menjadi adat istiadat. Hal inilah yang membuat lebaran tahun ini sedikit sepi begitu pula dengan pemasukan #eeh. Bukan, bukan saya tentunya, tapi bagi anak-anak kecil yang biasanya keliling dan mendapatkan THR. Kali ini mungkin hanya sedikit yang mereka dapatkan. Begitu pula dengan orang yang telah menyiapkan uang THR tersebut, menjadi sedikit bingung dan disayangkan karena tidak sempat memberikan kepada anak-anak (termasuk saya). hehehe ....

Kalau tidak salah ingat tahun lalu juga keliling ke banyak rumah (kerabat ayah dan ibu). Tapi kali ini tidak. Hanya berkunjung ke rumah salah seorang kerabat lama yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Beliau adalah orang yang memiliki (beberapa) rumah kontrakan yang zaman dahulu kala sempat kami kontrak rumahnya. Soal hubungan kedekatan, seperti yang sudah saya bilang, sejak dahulu sudah dekat dan sudah dianggap sebagai saudara. Sehingga setiap tahun sudah hal wajib saat lebaran untuk berkunjung ke rumah beliau (kecuali jika kami mudik). Di sana baru saya merasakan hawa lebaran. Ramai orang berkunjung, banyak makanan (bukan hanya kue) dll. Kalau sudah begini jadi rindu kampung halaman, yang selalu ramai dikunjungi sanak saudara (maklum termasuk yang di-tua-kan aka nenek).

Hal lain yang membedakan adalah kalaupun saya mudik, nyatanya di Surabaya pun tak ada saudara. Mereka semua mudik. Pun tak ada "mbah besar" (sebutan saya untuk ibu dari bapak). Mbah besar sudah meninggal setahun yang lalu, sekitar dua hari setelah lebaran. Nenek meninggal pun saya tidak pulang, hanya ayah. Maklum terkendala biaya. Zaman terus berubah dan saya juga baru mengetahui beberapa berita penting terkait saudara-saudara saya di Surabaya. Lebaran ini saya baru tau kalau ada (Apa sebutan dari anaknya kakak dari ayah? Sepupu?) sebut saja sepupu, yaa salah satu sepupu saya sudah menikah dan sedang mudik ke rumah suaminya di Jember. God! Kenapa saya tidak tahu kabar tentang saudara saya? Tidak bermaksud menyalahkan siapapun sih, salah saya juga tidak bertanya. Tapi tetap saja, kenapa ayah saya tidak bilang -__- Aaah, saya baru menyadari suatu hal kalau ternyata tinggal saya, cucu-yang-saat-ini-beranjak-dewasa-dan-siap-untuk-menikah. Cucu yang lain (yang belum menikah) masih dibawah umur dan remaja. Well, belum siap mendengar pertanyaan, "udah punya pasangan belum?" atau "waah anak gadis udah perawan, kapan nikah?" duuh bude, skripsi aja belum hahhaaha... 

Hmm... lebaran terakhir (di kampung 3 tahun lalu) ada sepupu yang masih hamil, sekarang sudah melahirkan dan anaknya sudah berumur 3 tahun. Parahnya saya indak tahu bentuk rupanya seperti apa. Begitu pula sepupu saya yang lain, anak dari bude yang ke-2, pun telah memiliki 2 atau 3 anak gitu (kalau tidak salah). Ada pula sepupu laki-laki yang sudah sangat lama tidak bertemu (lupa kapan terakhir ketemu saking lamanya) kini sudah menikah dan mempunyai dua anak. Oooh GOD!! I'm getting older right now. Mereka yang dulu masih remaja sudah punya momongan semuaa dan saya sudah dipanggil "Tante"?? Dan lagi, anak laki-laki dari kerabat ayah dan ibu yang saya ceritakan tadi, yang seumuran dengan saya, juga sudah menikah bahkan sudah punya anak. WHAT??!! I'm really shocked heard that one. Yaa sebenarnya sudah biasa mengingat umur kita yang-sudah-memasuki-usia-menikah. Tapiii ... seinget saya, lebaran tahun lalu itu doi masih lajang, waktu cepat berlalu yaah -__- *makin sadar kalau saya sudah tua dan semakin tua dan semakin mendekati usia nikah*. Pertanyaan seperti "kapan nikah?" itu akan sering terdengar sekarang ... 

But, di samping semua hal itu ada kabar gembira bahwa hampir semua orang tertipu dengan wajah saya. *maaf tidak ada maksud menipu*. Hampir dari mereka yang baru mengenal saya mengira saya masih siswa sekolah, SMP khususnya. Bahkan sempat ada yang mengira bahwa saya ini anak kedua, dan adik laki-laki saya yang masih SMP tapi badannya jauh lebih besar dari saya adalah anak pertama. Dan yang sudah mengenal pun masih sering heran kalau saya adalah anak kuliah. Sampai-sampai saya sendiri lelah menghadapi pertanyaan sekaligus pernyataan orang seperti ini :
A : ini anaknya yang kedua yaa buu?
I : bukan, ini yang pertama, yang laki yang kedua.
A : Oooh, kecil yah badannya, kelas berapa?
S : Udah kuliah tante/om ... *senyum ga jelas*
A : Udah kuliaah?? Tante/om kira masih SMP ...
S: hehehe (masang senyum terpaksa, males, cengar-cengir nggak jelas karena udah duga jawabannya)

Saya selalu bertanya dalam diri saya, segitu kecilnya kah saya di mata orang? Bahkan ada dosen yang juga tidak percaya saya anak kuliahan. Hfft ... Sudahlaah nikmati saja muka babyface yang dimiliki hihiihi.. Hanya segini cerita lebaran di hari pertama, tidak banyak cerita seru kan? Tapi cukup banyak berita yang mengagetkan saya -__-

Selamat malam, selamat lebaran 
Best regard,
Recil (Rezky kecil) :)

You Might Also Like

0 comments: