Dua Ibu : Hanya untuk yang pernah dilahirkan oleh seorang Ibu

18.22 rezkyka 0 Comments


Dua Ibu : Hanya untuk yang pernah dilahirkan oleh seorang Ibu

Resensi

Judul Buku       : Dua Ibu
Pengarang        : Arswendo Atmowiloto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan+hal    : Cetakan ketiga, Juni 2014 + 304 halaman.

“Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaanya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa jika dua macam sifat itu bergabung menjadi satu.”
Buku ini mengisahkan tentang kasih sayang ibu dan anak-anaknya, tidak peduli anak kandung atau bukan. Begitulah pengakuan Mamid sebagai orang pertama dalam cerita ini yang memiliki dua ibu. Demikian juga pengakuan delapan anak lainnya (dengan satu anak kandung) yang dikeluargakan oleh Ibu dan Ayah. Walaupun dengan keterbatasan ekonomi Ibu mengasuh mereka tanpa kenal lelah dan keluh. Tokoh Ibu dalam cerita ini begitu kuat, penuh kesabaran layaknya perempuan Solo dan rela berkorban demi kebahagiaan anak-anaknya. Terlihat pada saat Solemah, anak sulung Ibu yang hendak menikah dengan seorang Prajurit Angkatan Laut dan kini tinggal di Surabaya. Ibu rela menjual barang berharga demi membiayai pernikahan Solemah. Begitu pula dengan pernikahan Mujanah dan khitanan Mamid.
Satu per satu anak Ibu pergi mencari kebahagiaan masing-masing. Seperti Solemah yang kini tinggal di Surabaya bersama suaminya, Ratih dan Herit juga menyusul tinggal di Surabaya karena suami Ratsih seorang Angkatan laut. Pun Mamid yang tidak rela meninggalkan Ibu di Solo, kini tinggal di Jakarta bersama orang tua kandungnya, Tante Mirah dan Om Bong. Anak kandung Ibu, Jamil juga meninggalkan Ibu untuk menjadi seorang petinju. Bahkan si kembar Priyadi dan Prihatin sempat diambil oleh ayah kandungnya, namun kini tinggal bersama Adam. Tersisa Ibu, Mujanah dan suaminya yang tinggal di Solo. Hingga akhirnya mereka kembali pulang dan berkumpul di Solo saat Ibu meninggal untuk melihat yang terakhir kalinya dan mengurus pemakamam Ibu. Dan setiap tahun di tanggal dan bulan kematian Ibu, anak-anak Ibu berkumpul di Solo untuk selamatan dan membersihkan makam.
Walaupun mereka berasal dari keluarga yang berbeda-beda, mereka tetap mempunyai darah yang sama. Darah seorang Ibu yang rela berkorban demi kebahagiaan anak orang lain. Ibu yang dengan penuh kesabaran mendidik anak orang lain menjadi anak yang santun. Ibu yang kuat dan tak pernah berkeluh demi mengasuh anak orang lain. Ibu yang menyimpan pait getirnya kehidupan sendiri. Ibu yang selalu dikenang di lubuk hati yang paling dalam, yang namanya selalu dibisikkan ketika marabahaya datang, yang selalu dirindukan saat jauh dari rumah.
Cerita ini begitu sederhana namun juga begitu hidup. Dengan gaya bahasa yang khas, Arswendo Atmowiloto membuat pembaca menyelami nilai-nilai kehidupan yang disajikan. Adegan dan percakapan yang begitu sehari-hari mampu membuat pembaca merasa haru dan lucu. Walaupun demikian, di beberapa bagian terdapat adegan yang agaknya berbau porno. Sehingga buku ini lebih cocok dikonsumsi oleh remaja tujuh belas tahun ke atas. Konfllik dalam cerita pun tidak terlalu pelik dan rumit, sehingga pembaca masih mudah mencerna inti cerita. Walaupun alur yang digunakan maju namun tidak selalu berurutan. Cerita ini juga memakai sudut pandang orang pertama serba tahu. Terlihat saat tokoh ‘aku’ (Mamid) menceritakan secara rinci perjuangan Jamil di tanah rantauan. Pengarang membuat cerita Dua Ibu berlatar pada situasi di kota Solo, Surabaya, Malang, Jakarta, dan Singapura  pada sekitar awal tahun 60-an. Arswendo juga memberikan banyak pesan moral melalui cerita Dua Ibu. Buku ini merupakan cetakan ketiga dan terdapat pembaharuan pada cover buku. Selain itu, Dua Ibu juga berhasil meraih Karya Fiksi terbaik pada tahun 1981 oleh Yayasan buku Utama. Terakhir Arswendo berpesan kepada para calon pembaca, “Mereka yang merasa tidak pernah dilahirkan seorang ibu, dilarang keras membaca buku ini.”

You Might Also Like

0 comments: