Mem"biru"kan Kelingking

01.54 rezkyka 0 Comments

Ajang mem"biru"kan kelingking ini bukan kali pertama buat gue. Kelingking gue udah pernah biru (kena tinta pastinya) waktu awal gue kuliah. Yap, pemilihan Presiden Mahasiswa (Pemira 2012). Kali kedua setelah Pemira (2013) adalah waktu Pemilu 9 April yang lalu. Dan untuk esok hari, 9 Juli 2014 adalah kali pertama saya ikut berpartisipasi dalam Pestanya Rakyat, Pesta Demokrasi, Pemilihan Orang no.1 di Indonesia, RI 1. Esok hari adalah hari dimana rakyat Indonesia menentukan akan dibawa kemana Indonesia 5 tahun mendatang. Lima tahun memang bukan angka yang sedikit tapi bukan juga waktu yang lama, tapi mampu membuat Indonesia makin terpuruk atau dapat memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Pemilu Presiden kali ini sepertinya lebih "panas" dari tahun-tahun lalu, atau ini hanya perasaan gue doang? Maybe. Gue nggak mau sok jadi pengamat politik karena emang gue nggak paham tentang politik. Walaupun ada tokoh yang bilang kalau orang buta politik itu adalah orang paling bodoh. Jadi di sini gue hanya mencoba untuk netral, mungkin. Yang namanya pemilu pasti sarat akan kampanye. Entah itu kampanye yang jujur, kampanye hitam, kampanye terselubung dan kampanye-kampanye yang lainnya. Dan dari kampanye nggak jauh-jauh dari kata mencemooh lawan. Entah mana yang bener dan mana yang salah, mana yang bohong mana yang jujur. Semua seolah diselimuti oleh satu kata pencitraan. Dan di masa-masa kampanye ini biasanya yang paling riweuh adalah tim suksesnya. Mungkin si calon nggak terlalu memandang riweuh dan melakukan kampanye yang lebih "elegan" dibanding timsesnya. 

Mereka yang mengaku pendukung atau timsesnya sering banget keluyuran di linimasa beranda facebook atau twitter gue. Mereka memuji ini dan menghina itu, saling hina saling muji saling sindir tak terhindarkan. Gapaham lagi siih guee. Udah cukup eneg rasanya ngeliat mereka saling hujat di dunia maya. Yang bikin nggak paham lagi, setau gue Pemilu itu punya suatu asas yang namanya LUBER JURDIL (langsung umum bebas rahasia jujur dan adil). Lantas dari kampanye-kampanye itu apakah mencerminkan pemilu yang LUBER JURDIL. Apakah mereka lupa atas asas yang telah diagung-agungkan itu? Sebelum nge-judge mending liat dulu arti kampanye. Menurut KBBI siih kampanye itu gerakan (tindakan) serentak untuk melawan, mengadakan aksi dsb, atau kegiatan yg dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yg bersaing memperebutkan kedudukan di parlemen dsb untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara. Istilah kasarnya kampanye sama dengan promosi. Memang, promosi itu cenderung mengungkapkan hal-hal baik dari calon yang dipromosikan, tapi bukan dengan menjelek-jelekkan lawan juga kan? Dan yang jelas mengungkapkan hal-hal yang baik itu juga berdasarkan fakta yang ada. Yaa idealnya siih gitu. Tapi nyatanya, orang berbuat seenak jidat mereka asal tujuannya tercapai. 

Yang bikin gue gerah adalah persoalan Jujur, dan Rahasia. Pasalnya, banyak media massa baik televisi maupun surat kabar yang sudah tak lagi independen menegakkan kebenaran akan fakta. Kecewa siih sebenernya, harusnya atau idealnya kan mereka yang bertugas menebar berita fakta dan bersifat netral tanpa memihak calon A atau B. Nyatanya si TV A dukung calon A, menjatuhkan B. Begitu sebaliknyaa. Lantas, tidak hanya media televisi, tapi juga media online dan surat kabar lainnya, yang dengan (entah punya rasa bersalah atas tanggung jawab moral atau tidak) mereka menyebarkan hal-hal yang belum bisa diketahui kebenarannya. Mungkin bahkan media terpercaya sekalipun yang netral tak lagi bisa dipercaya. Karena seperti yang gue bilang tadi di awal semua itu diselimuti sama satu kata pencitraan. Makanya gue jarang atau bahkan nggak pernah mungkin ngeliat berita tentang pemilu presiden ini. Bahkan debat capres pun penuh dengan intrik, dusta, janji palsu dan pencitraan. Mungkin di mata gue nggak ada orang yang bener-bener terpercaya. Karena menjadi orang terpercaya itu susah.

Trus darimana gue tau kalo si TV A dukung A atau sebaliknya, atau media itu begini dan begitu. Gue hanya melihat dan mendengar. Karena gue nggak mau terpengaruh sama mereka yang kebenarannya belum bisa dibuktikan. Tapi bukan berarti gue menutup hati, mata, telinga gue untuk selentingan-selentingan soal calon pemimpin. Gue menerima berita-berita yang disampaikan. Hanya saja gue memilih untuk diam karena asas Rahasia. Nggak mau ikutan mengumbar gue pilih siapa atau komen ketika calon yang gue pilih dihina dan dicaci maki. Alasan lain mungkin karena gue emang belum mengenal dengan baik siapa calon pemimpin yang akan gue pilih. Namun, beberapa berita sudah cukup untuk menguatkan pilihan gue nantinya.

Yang penting adalah SATU - Yakin akan hal yang lo lakuin adalah baik dan benar (InsyaAllah), akan calon yang akan lo pilih sebagai Pemimpin masa depan. Mendengar, atau melihat itu perlu, tapi balik lagi ke hal yang Satu itu. Dan lagi perbedaan itu adalah hal yang biasa dan semua akan menjadi lebih indah ketika kita berbeda dan tetap damai juga saling menghargai pilihan orang lain. So? Ready for Pemilu? 

Say no to GOLPUT!!!!

You Might Also Like

0 comments: