Antara hati, pikiran, dan bibir

01.29 rezkyka 0 Comments

Sebenarnya apa yang kau harapkan dari dirinya? Tidak maksudku apa yang kau tunggu dari dirinya? Sudah jelas-jelas dia tak lagi memperdulikanmu, bahkan mungkin dia sudah lupa, tapi kau masih saja ingin menunggunya. 
Akuu. . . aku tidaaak.....
"Hai Venus, apa kau baik-baik saja?" Tidak. "Yaaa, tentu saja, Lun." "Baiklah kalau begitu." Dia tidak menyangkal. Apa dia tidak tahu? 
Bukan dia mengetahuinya hanya saja dia tidak ingin menggangu dirimu. Lagipula, kau sedang tidak ingin diganggu tentang hal ini bukan??
Iya, kau benar. 
Jadi, kenapa?? Apa alasannya??
Alasan? Ooh.. Akuu... sebenarnya aku hanya penasaran. Penasaran apa dia dulu memiliki perasaan padaku. Itu saja.
Hanya karena penasaran kau berbohong pada dirimu sendiri? Aku tahu sebenarnya kau tak lagi menaruh perasaan padanya. Kau bilang kau masih menunggu dirinya karena kau menyangkal perasaanmu yang sebenarnya bahwa kau tak lagi mencintainya dan sekarang kau mengaku kau hanya penasaran. Lalu mengapa tak kau tanyakan saja hal itu pada dirinya?
Aku tidak bisa. Aku terlalu takut. Aku takut bila suatu saat nanti aku bertanya, aku tak bisa .... tak bisa seperti dulu. Maksudku, aku takut bila ini benar-benar terjadi, dia menjauh dariku. Cukup seperti ini keadaannya. Jauh tidak dekat juga tidak. Aku hanya tidak mau keadaannya nanti benar-benar canggung dan aneh. Aku sudah nyaman seperti ini. Lagipula, aku tak tahu darimana aku harus memulainya bila aku ingin bertanya. Kita sudah terlalu lama tak saling bicara dan tak memberi kabar.
Bagaimana kalau kau salah? Maksudku bagaimana kalau nantinya dia tak seperti itu? Bagaimana kalau ternyata dia juga menaruh perasaan padamu dahulu hingga sekarang? Kurasa kau memang perlu keluar dari zona nyamanmu.
Hhuh, tidak mungkin itu terjadi. Tidak mungkin dia menaruh perasaan padaku hingga sekarang. Bila memang iya, aku rasa dia tak akan berani menjalin hubungan dengan wanita yang lainnya. Yaa, sebenarnya aku ingin seperti itu, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya. Aku hanya belum siap. Yaa mungkin itu kata-kata yang tepat selain aku takut.
Bagaimana kalau ternyata itu hanya pelampiasan? Maksudku, salah satu cara untuk melupakanmu?
Bodoh, kau terlalu sering menonton ftv dan membaca novel. Aku rasa dia benar. Laki-laki sejati dan setia tak seharusnya dia bersama wanita lain bila dia memang telah mencintai seseorang. Tapi, kau ada benarnya juga. Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi.
Jadi, yang benar yang mana?? Kau sungguh membingungkan. 
CUKUP! Biarkan ini berjalan begitu saja.
Kau yakin kau tak apa-apa? Apa kau tidak akan menyesal nantinya?
Lihat saja nanti. Jalan mana yang aku pilih pada skenario ini dan apa hasilnya tak ada yang tahu.
  
  - percakapan antara hati, pikiran dan mulut -

Tak terasa lima puluh menit berlalu begitu saja tanpa ada satu patah kata pun dari guru yang mengajar yang masuk dalam pikiran Venus. Ia terlena dalam lamunannya sendiri. Memandang ke depan, tapi kosong. Percakapan antara hati, logika(otak) dan mulut itu telah mengganggu pikirannya. Dan kini, ia telah tersadar. Ia akan membiarkan kakiknya melangkah, melewati jalan-jalan dari skenario drama kehidupan ini.
 

You Might Also Like

0 comments: