Malam Bulan Purnama

01.06 rezkyka 0 Comments

Aku menengadah ke langit luas sesaat setelah keluar dari gedung mahasiswa. Menatap langit yang nampak gelap, mendung nyatanya. Langit malam memang gelap, namun nampak lebih gelap ketika mendung menyerang. Seseorang menepuk pundakku dan berkata "Apa yang kamu lihat?" 

"Tidak ada," jawabku. "Ternyata sekarang malam bulan purnama," lanjutku. Ia mengaggukkan kepala tanda setuju padaku. Dan kami melajutkan perjalanan pulang. Sesekali aku kembali menengadah menatap sang luna sambil tersenyum kecil. Benar-benar indah. Ia membuat terang malam yang gelap karena awan mendung. Berada di balik awan tak membuatnya kehilangan cahaya. Cahayanya memancar membentuk lingkaran pelangi di sisinya. Dan aku tahu seseorang ada bersamaku saat ini sedari tadi memperhatikan tingkah lakuku. Ia hanya melihatku teduh sambil sesekali tersenyum. Aku memang tidak menoleh ke arahnya, namun aku tahu. Aku bisa merasakannya dan senyum itu terlihat dari sudut mataku.

"Apa?" tanyaku. "Aah tidak, kamu suka sekali bulan yaa, Luna?" tanyanya. Aku hanya mengangguk, meng-iya-kan. Kemudian terdiam lagi. Dia adalah Bintang. Teman satu organisasi. Dan aku, Luna. Perempuan yang punya "random mind". Kami pulang bersama karena kebetulan tempat kami tinggal searah.

Esoknya, masih malam bulan purnama. Aku dan Bintang kembali pulang bersama, namun kali ini kami mampir untuk makan malam.

"Malam ini masih bulan purnama, apa yang kamu suka dari bulan?" tanyanya padaku membuka pembicaraan malam itu. "Karena bulan menerangi malam yang gelap. Bukan berarti aku benci kegelapan, hahaha" jawabku.

"Kamu juga suka bintang?" tanyanya lagi. "Bintang? Kamu? atau bintang di langit? hahaha" tanyaku memastikan. "Dua-duanya boleh hahaha," jawabnya.

"Kalau begitu ........ aku suka keduanya." tanpa sadar rona pipiku memerah. Beruntung saat itu kami masih di jalan, dan agak gelap jadi tak terlalu terlihat. "Lantas, apa yang kamu suka dari bintang?" tanyanya lagi. "Karena mereka meng-indahkan malam." "Terima kasih," jawabnya.

"Untuk apa?" tanyaku. "Untuk menyukai bintang. Karena aku juga menyukai bulan seperti kamu menyukai bintang," Kami terdiam. Canggung dan bingung untuk meneruskan pembicaraan. Terlalu ambigu. Apa yang dia maksud? Apa dia juga menyukaiku? Namaku, Luna yang berarti bulan. Dia bilang dia menyukai bulan seperti aku menyukai bintang. Aku sibuk dalam pikiranku sendiri. Tak sadar Bintang memanggilku sejak tadi.

"Luna, kamu baik-baik saja?" Tidak. "Yaaa.... tentu." Tiba-tiba dia menggemgam tanganku, dan berbisik di telingaku. Jantungku berdegup cukup kencang, semoga tak terdengar olehnya. Oh tidak. Apa yang ia katakan tadi? Boleh aku mendengarnya sekali lagi? Aku seperti melayang-layang di udara. Jiwaku seolah sedang terbang melayang. Aku hanya bisa terdiam dan membiarkannya menggemgam tanganku erat.

Setelah makan, dia mengantarku pulang ke kosan. Kami hanya terdiam sepanjang makan dan perjalanan pulang. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Dia kembali menggemgam tanganku. Aku tak menolak. Kami berjalan di bawah sinar bulan purnama yang terang dan ribuan bintang yang berkelap-kelip. Tak lama kami sampai di depan kosan tempat ku tinggal.

"Terima kasih," ucapku. Dan entah tiba-tiba saja, di luar kendaliku, aku berbisik padanya. "Aku juga suka Bintang," Bintang tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kulihat. "Terima kasih, Luna." Ia mengelus rambutku. "Sebaiknya kamu masuk, dan beristirahat. Selamat malam."

"Selamat malam," malam yang indah. Benar-benar indah. Terima kasih Bintang. Terima kasih bulan purnama. Aku tidak akan lupa hari ini. Aku senang sekali.

You Might Also Like

0 comments: